Keangkuhan malam redup ketika subuh pamerkan sifat arogannya. Transpirasi hidupkan embun di antara rerumputan yang melambai, seolah titik-titik bening itu saling menyapa dan bermain leluncuran disetiap helaian dedaunan. Sedang matahari belum juga menampakkan seberkas sinarnya. Benar saja, disubuh yang gelap itu masih memperdengarkan suara malam beradu sahutan-sahutan ayam jantan yang terbangun dalam gelap.

Hembusan nafas malaikat-Mu dimana aku dititipkan kepadanya selalu kurasa ketika malam terlelap dan ketika pagi menjemput. Lembut kurasa tatapannya yang begitu dalam padaku. Yah, itulah sikap ibu padaku yang sudah bertahun-tahun tak kurasakan lagi. Semenjak itu, aku menjadi remaja yang tumbuh dan berkembang dalam pergaulan. Merasa tiada yang mempedulikanku dan merasa tiada yang menyayangiku.

Aku berjalan sendiri, tidur tanpa dongengnya lagi. Yah, aku sadar aku sudah besar sudah kelas tiga SMA, jadi aku tidak perlu lagi untuk didongengkan. Tapi aku masih butuh perhatian dan kasih sayang. Sejak kecil aku hanya tinggal dengan ibu tanpa ayah. Ibu sangat menyayangiku, memerhatikanku dan sangat mencintaiku sehingga waktu itu, aku merasa tak perlu ayah. Tapi, sekarang Ibu sudah jauh dariku, entah apa yang menyibukkannya diluar sana. Hinggga lupa pada anaknya sendiri!

Akhir-akhir ini aku kadang berfikir, Apakah aku dilahirkan dengan cara yang benar? Akhir-akhir ini aku merasa sangat merindukan ayahku yang dari kecil tak pernah kutahu siapa dia. Apakah masih hidup? Apakah sehat dia disana? Bersama siapa? Apa yang ia lakukan? Aku tidak tahu. Yang ku tahu, aku rindu ayah.

Ibu, kenapa ibu menjauhiku? Apa salahku? Aku anak ibu satu-satunya, tapi kenapa ibu seakan menutup mata kearahku. Aku kesal dengan Ibu, makanya aku memberontak dengan caraku. Karena prestasiku kau abaikan makanya disekolah aku berusaha sekeras mungkin agar punya kasus yang menyebabkan orang tua datang. Tapi apa? Yang datang hanya tetangga, Paman atau Bibi. Diluar sekolah aku menjadi anak yang nakal, Nge-Lem, Minum miras, Bolos, semua itu kulakuakan untuk mengundang perhatian ibu. Kenapa sih, ibu tidak mau mengerti batinku tiap kali ibu membelakangiku.

Pagi ini, aku ingin memberitahu ibu bahwa seminggu lagi Ujian Kelulusan SMA akan dilaksanakan. Meskipun sebenarnya aku ragu apakah ia akan memperdulikanku walau sekejap. Tapi aku meneruskan langkahku menuju ruang kerjanya. Didepan pintu, aku menarik napas panjang. Aku tidak mengerti, kenapa harus setegang ini, padahal ingin menemui ibu sendiri. Perlahan kuketuk pintu. “Tok…tok…tok…” Suara ketukan pintu.

“ Masuklah, jika urusan yang kau bawa penting! ” Kata ibu seolah tahu yang mengetuk pintu adalah aku.

Aku perlahan memasuki ruangan itu. Ya Tuhan, aku benar-benar gugup. Kenapa aku seperti ini bertemu ibu sendiri saja begitu sulit.

“ Ada apa? Tumben keruangan ibu?” Kata Ibu dingin.

“ Ibu, seminggu lagi Ujian kelulusan.” Kataku perlahan.

“ Yah, sudah! Belajarah dengan giat!” Balas ibuku begitu singkat dan sangat jelas kalau ia memang tidak peduli padaku! Begitu dingin dan kaku.

“Ibu kenapa sih, Ibu tidak pernah peduli padaku!” Kataku.

“Apa yang harus ibu lakukan untukmu. Bukankah dengan menyuruhmu belajar dengan giat berarti ibu peduli!” Balas ibu yang seratus persen membuatku tersinggung.

“ Apa salahku Ibu? Kenapa ibu selalu bersikap dingin padaku? Atau ibu melampiaskan dendam ibu ke ayah padaku? Atau kekesalan ibu pada ayah karena sudah meninggalkan ibu, lalu menjadikanku sebagai tempat menghunuskan pedang ibu? Kenapa ibu? Apa salahku? Bahkan disaat yang sangat penting bagiku, ibu abaikan! Kenapa ibu?” Kata-kata yang sudah lama aku pendam karena tidak ada kesempatan untuk mengungkapkannya.

“ Yah, Ibu malu punya anak seperti kamu! Ibu memang dendam pada ayahmu! Ibu memang kesal pada ayahmu karena meninggalkan ibu! Ibu sangat membencimu karena kau anakku dari ayahmu! Jadi apa pentingnya bagi ibu Ujian kelulusanmu, bukankah ibu ingin melihatmu menderita! ” Balas ibu dengan menatap tajam padaku, dan sungguh kalimat-kalimat itu berhasil membuatku sangat, sangat sakit!

“ Ibu puas!” Balasku dengan menatap tajam ibu.

“ Setelah apa yang kudapatkan dari kecil sampai sekarang Aku mengucapkan banyak terima kasih pada ibu. Ibu yang telah merawatku diusia balita dan menyayangiku, meskipun kasih sayang itu palsu, tapi itu lebih baik daripada tidak pernah. Terima kasih ibu, mungkin daripada aku menjadi beban ibu lebih baik aku menghilang saja dari hadapan ibu. Aku akan berusaha menyembunyikan diriku di hadapan ibu.aku jamin ibu tak akan melihatku lagi. Ibu nikmati saja hidupmu, anak yang membuatmu malu ini akan menghilang. Salam untuk yang terakhir kalinya. ” Kataku. Kulihat ibu membisu, beku dan kaku bagai patung. Aku tak tahu apakah ia terpaku akan kata-kataku, atau ia hanya memberiku kesempatan untuk pergi.

“Dan satu lagi… aku terima ibu membenciku karena aku anak haram, tapi…. ibu harus tahu, aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan!”

Aku berlari keluar dari ruang kerja ibu. Dan kusadari belati tajam tengah menari-nari dihatiku. Merangsang air bening yang bermuara dari sungai kembarpun berjatuhan amat deras.

Aku seorang laki-laki akan merasa malu jika menangis, tapi aku akan merasa bangga menangis karena ibu. Entah mengapa tak setitikpun rasa malu menangis karena ibu. Tapi semua tahu, jika seorang laki-laki menangis bukankah kesedihan yang amat perih yang dirasakannya.

Kaki ini terus melangkah dengan cepat menuju kamarku. Tekadku benar-benar sudah bulat untuk pergi dari tempat ini. Aku mengemasi barang-barangku, bagiku sekarang yang paling penting adalah bukuku. Setelahnya, aku merasa sangat terburu-buru untuk meninggalkan tempat yang dimana ada kehadiranku pasti menyakitkan baginya.

Ku ucap selamat tinggal untuk semua foto-foto yang terpajang di dinding rumah. Foto balitaku, dimana ibu memelukku, menciumku dan membelaiku. Tak sedikitpun kepalsuan yang terpancar dimatanya. Juga pada semua mainan yang dibelikan ibu untukku dulu, aku menyelipkannya satu ditasku. Yah, hanya satu, hanya album masa kecilku dulu. Aku memeluk semua mainan yang kutinggalkan. Aku segera melangkah keluar. Aku juga tahu, dari tadi sepasang mata mengawasiku dengan kasihan, dan aku tau sepasang mata itu juga mengeluarkan air bening untukku. Mungkinkah ia kini merasakan apa yang aku rasakan? Selamat tinggal ibu batinku menjerit kesakitan, begitu sakit.

Untuk sementara ini, aku menumpang dikos-an temanku, barulah setelah ujian Kelulusan aku berencana mencari kos-an sendiri. Selama seminggu aku belajar dengan sangat giat, mencoba untuk hidup mandiri. Kejadian itu kemarin tidak harus membuatku jatuh dan patah semangat, meskipun sebenarnya aku sudah patah hati.

Aku berdoa dengan giat, melantunkan ayat-ayat suci-Nya setiap malam, berharap rahmat dari-Nya agar diberi kemudahan, ketepatan dan kelancaran dalam menjawab soal-soal ujian. Dan sangat mengharapkan kekuatan dari-Nya agar bisa hidup dengan penyakit batin yang kuderita.

Meskipun dia membenciku, tapi aku yakin dia pasti menyebut namaku dalam doanya. Dia pasti mengingatku setiap malam, aku yakin. Karena dialah ibu, ibu yang menyayangiku dengan hati terbungkam, ibu yang menyayangiku dengan wajah datar. Aku yakin meskipun ada kebencian di hatinya, tapi cintanya lebih kuat. Aku yakin itu!

Huf… besok ujian, aku menyiapkan semua yang kuperlukan untuk besok. Untunglah, peralatan ujian dipinjamkan sekolah, jadi tidak terlalu pusing. Abis, nyetrika baju aja harus pinjam dikamar kos sebelah atau sebelahnya lagi, itupun kalau benar-benar tidak sedang dipakai.

Waktu terasa bergulir begitu cepat, detik-detik memasuki ruang ujian, aku sangat deg-degan. Huf… aku bisa! Kukepalkan tangan, perlahan menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan pula. Aku bisa! Hatiku menjerit memanggil nama ibu. ibu! aku bisa! Bismillahi Rahmanirrahim, Aku mulai mengerjakan soal dengan perlahan dan berusaha untuk tenang. Untunglah aku dapat menjawab semua soalnya. Ya Allah, apapun nanti hasilmya kuserahkan pada Engkau.

Ujian kelulusan akhirnya selesai, sebenarnya aku berencana untuk menemui ibu. tapi bagaimana, yah! Aku hanya bisa memimpikannnya dan menyebut namanya disetiap doaku. Aku hanya bisa mengintipnya dari jauh, aku hanya bisa memeluknya dalam khayalku. Ibu aku merindukanmu. Mungkin ini adalah penyakit terparah yang kurasakan, luka batin. Lebih buruk 100000000 kali dari sakit hati ditolak atau diputuskan, bagiku.

Hal yang sangat sulit kulakukan adalah berusaha tenang disaat kegalauan hati menerkam. Makanya untuk menghibur diri aku berjalan keluar kamar kos, kumpul dengan teman-teman sekolahku.

“Ekh, kita bikin video yuk! Untuk diputar di hari perpisahan minggu depan!” Ajak Randy teman sekelasku yang paling narsis.

“Ayo, kita nyanyi aja!” Kataku.

“Kamera Action!” Rian mengarahkan.

“Aku dulu! Untuk pacarku Nia, ku persembahkan lagu untukmu. Semoga lagu ini menjadi kenangan manis untuk kita. Bla…bla…bla…” Radit memulai dengan lagunya.

Randy, Rian, Radit, Dika dan aku membuat video klip amatir yang rencananya akan diputar diperpisahan nanti. Acara perpisahan yang direncana mewah dan besar akan dihadiri seluruh orangtua siswa itu, membuatku ragu akan kehadiran ibu. ibu kumohon datanglah! Hatiku menjerit.

Tiba-tiba aku merasa mata ini begitu berat,dan akhirnya gelap. (tak sadarkan diri setelah video selesai). Aku merasa diluar kesadaranku. Dan disini jiwaku melayang menerbangkan ragaku. Semuanya putih. Hanya ada aku sendiri. aku terbang keliling dengan dua sayap dipundakku. Aku bertanya dimana aku? Tapi siapa yang kutanya, tak akan ada yang menjawab. Aku hanya sendiri.

Lama-kelamaan terlihat samar ibu duduk membisu dikamarku. Ia memeriksa semua barangku, dan akhirnya menemukan suratku yang terselip dilaci. Ia membuka surat itu degan perlahan. Dan membacanya kalimat demi kalimat.

 

Untukmu ibu yang selalu Kucintai,
Ibu, hari ini dan hari-hari yang telah lalu aku selalu memperhatikanmu setiap kali ibu terbangun di pagi harimu. Yah, benar saja ibu selalu bisa siap dengan pakaian rapimu. Ibu melaluiku. Padahal aku menunggu kau mengucapkan “selamat pagi!” untukku. Terkadang aku menunggu ibu membalas salam pagiku.

Sepulang sekolah, aku selalu duduk di ruang tamu dengan buku-bukuku. Menunggu ibu pulang dan makan siang bersama. Tapi tidak, aku selalu ketiduran hingga lupa untuk makan. Karena bahkan setelah aku terbangun ibu belum juga datang. Ibu aku merindukanmu, duduk di meja makan. Makan bersamaku, mendengar ceritaku atau aku yang mendengar ceritamu. Tak apa.

Sore, ibu memang paling sering pulang di jam-jam ini. Saat kurasa punya waktu untuk berbicara denganmu, ibu selalu mengatakan. “Aku lelah, jangan mengganggu dulu”. Aku geli sendiri mendengarnya. Aku bahkan belum menyapamu tapi itu sudah sebuah gangguan untukmu.

Setelah beristirahat dikamarmu, ibu keluar ke ruang keluarga. Menyalakan tv, dan menghabiskan waktu didepannya. Ketika aku mendekat, handphonemu akan ‘sangat senang’ untuk berdering. Hingga membuatku pernah berpikir untuk menculiknya, memalunya, membakarnya, menguburnya dan membuangnya kelaut. Karena ibu bahkan lebih memedulikannya barang itu ketimbang aku.

Ibu, ibu tahu? Sudah sangat lama ibu tak menyapaku. Aku merindukanmu ibu. Setiap kali kulihat ibu berjalan panik dirumah. Aku berharap ibu mendatangiku dan menceritakan apa yang menggelisahkanmu. Tapi tidak, ibu tak akan melakukan itu.

Aku selalu yakin bahwa ibu sangat menyayangiku. Ibu hanya terlalu sibuk, hingga lupa menyapaku. Tak apa. Karena suatu hari ketika urusan ibu telah selesai, ibu akan kembali padaku. Makan bersamaku, menyapaku, mendengar ceritaku, meminta pendapatku dan kita akan menghabiskan waktu bersama. Benarkan ibu?

Hari ini, minggu ini, bulan ini, tahun ini, aku telah bersabar menonton kesibukanmu. Aku bahkan telah menjadi pribadi yang benar-benar sabar karena latihanmu. Jika dengan modal latihan selama ini aku bisa menjadi pengajar. Aku pasti sudah mengarkan teori kesabaran kepada orang lain bahkan padamu ibu. Aku selalu berpikir bahwa di hari esok ibu akan ingat untuk berbicara denganku.

Pernah sekali aku menggerutu, ketika kubilang ibu selalu tak punya waktu untukku. Ibu menjawabku dengan satu-satunya kalimatmu. “ Semua yang ibu lakukan juga untukmu!”. Terimakasih ibu. Untukku kata ibu. aku mulai berpikir, yah memang benar untukku. Selebihnya untuk jabatan, profil, dan uang.

Aku sekarang mulai berpikir ibu, waktu yang kuinginkan mungkin tak bisa kudapat bahkan dihari yang akan datang.Mungkin karena jika ibu meluangkan sedikit waktu untukku ibu akan mendapatkan kerugian besar. Yah, sepertinya memang begitu. Berapa harga waktumu sehari itu ibu? Aku sungguh akan menabung untuk itu.

Aku merindukanmu..

Ibu masih tidak mempedulikan Aku. Apakah salahku padamu? apakah tidak ada hal yang membuatmu ingat kepadaku? Percayalah, aku selalu menyayangi ibu, dan

 

Aku tetap berharap suatu saat ibu akan menyapaku dan menatapku. Berkata “wah, anakku ternyata sudah tumbuh dengan baik” aku sangat berharap meski hanya sekedar menyapa. Apakah menyapaku sulit bagimu…? Maafkan akan kelahiranku didunia ini…

Aku yang hanya ingin disapa lembut olehmu hari ini.Setidaknya ibu memberi tanda bahwa ibu masih memiliki sedkit ingatan untukku.

Love you mom. Forever…..

Anakmu yang selalu menyayangimu setiap saat,

 

 

Adit

 

Yah, aku ingat surat itu. Ekh… tapi kenapa ibu menangis. Dan semakin menangis sejadi-jadinya…

“Anakku…! maafkan ibu! menyapamu pun ibu tidak pernah !” Ibu berteriak membuat gema ruang kamarku.

“ Aaaditt, dimana kamu nak? Ibu sangat merindukan kamu! Ibu sangat menyayangi kamu !” Ibu memeluk erat baju kaos kesukaanku, yang pada saat aku pergi aku lupa mengambilnya. Pantas aku cari-cari ternyata aku lupa.

“ Aaadit! Hiks…hikss… orangtua apa ibu ini! Dasar bodoh, dimana anakmu sekarang? Cari dia! Bahkan saat dia menghadapi ujian kelulusan ibu tidak hadir mendukungnya! Dasar jahat, egois! ” Ibu mengutuk-ngutuk dirinya sendiri, memukul-mukul pahanya.

Ibu… aku disini didekat ibu… ibu, aku juga sangat merindukan ibu… ibu…hiks…hiks… aku mengepakkan sayapku terbang dekat ibu. tapi ibu tidak melihatku… dan bahkan tidak merasakan kehadiranku… ada apa denganku

Ibu terus saja menangis dan menyebut-nyebut namaku. “Ibu ini Adit….Ibu ini Adit…Ibu ini Adit…”

Itu suara polosku. Astaga! Ternyata ibu benar-benar sangat merindukanku, sampai-sampai nada penanda panggilannya menggunakan rekaman suaraku ketika berumur empat tahun. “ Ibu ini Adit… ibu ini Adit… ibu ini Adit…” Handphone ibu terus berdering.

“ Adit, Adit…!” Ibu menghapus air matanya dan berlari menggapai Hpnya diatas meja.

“ Halo Adit, Pulang yah nak ya! Ibu kangen, maafkan ibu yah nak! ” Sepertinya ibu langsung mengangkat telephone itu tanpa melihat siapa nama kontak yang sedang menghubunginya.

“ Halo, tante. Ini bukan Adit, ini temannya Adit. ” Suara diseberang sana seperti suara milik Randy. Tapi apa yang membuat nada suara itu cemas.

“ Halo! Dimana Adit? Ini Randy kan? ” Balas ibu.

“ Ya, tante…” Balas Randy.

“ Randy, Adit mana? Apa Adit baik-baik saja? ” Ibuku begitu cemas dan gugup. Tapi nada suara Randy lebih cemas dan gugup. Sebenarnya ada apa? Ada apa denganku? Apakah ini semua ada kaitannya denganku? Aku tak mengerti.

“ Adit, tante! Eee… Adit….. Adit… tante…” Nada suara Randy terdengar sangat berat.

“ Kenapa dengan Adit? ” Ibu mulai menangis dan rasa gugup menyergapnya semakin kuat.

“ Adit tidak punya harapan hidup lagi, tante… Adit koma… tante…Adit… hiks… hiks…” Randy mulai terdengar seperti orang menangis.

“ Anakku baik-baik saja! Dimana kamu sekarang? ” Ibu bernada kerass pada Randy.

Aku disini ibu…

“ Di rumah sakit dekat sekolah tante, Adit tante… hiks… sebaiknya tante cepat kesini! ”

“ Iya,iya… tante akan segera ke sana!… Adit….?!” suara ibu bergetar lemas.

 

*******

 

Aku mengepakkan sayapku mengikuti mobil ibu yang melaju sangat cepat. Aku melihat ibu terus bercucuran air mata. Aku tahu sekarang bahwa semua yang kuyakini adalah benar, bahwa ibu selalu mencintaiku. Sekarang aku tidak tahu ada apa dengan diriku. Tapi aku merasa sangat damai karena mendapatkan apa yang menjadi kebutuhanku, Cinta Ibu.

Kulihat ibu turun dari mobilnya dan berlari memasuki rumah sakit. Dengan terus terisak ibu keliling bertanya-tanya tentang ruang yang aku tempati. Seorang suster mengantarkan ibu ke sebuah ruang pasien. Pintu kamar itu terbuka, dan Ryan berlari menghampiri ibu dengan wajah cemas. Kulihat ibu dan Ryan memasuki kamar pasien itu. aku juga mengikuti mereka. Seketika,

TIIIIiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttt…………………………………………………………………………..

“AAAadiiiiiiiiiiitttttttttttttt!!!!!!!!!!!!………… hiks…hiks… Aaadiiitt!!! Jangan pergi adit hiks..hiks…..” Teriak ibu dengan kencang. Aku mengintip dengan sosok yang berbaring di depan ibu itu. Aku? Ada apa denganku? Akankah? Ibu…..

“Aaadiiittt…..” Ibu terus mengguncang tubuh itu.

“ Maaf nyonya… kami harus mengumumkan kematiannya.”

“ Adit belum meninggal!!!” Ibu bersikeras menghalangi dokter.

“ Maafkan kami nyonya… Aditya Putra Kusumanegara telah meninggal pada pukul 14.10 tanggal 14 Oktober 2011. ” Dokter mengumumkan kematianku lalu menutup tubuh yang tergeletak itu dengan kain putih.

“ Nggak! Adit…. bangun Adit… Ibu sayang sama Adit…. Adit…hiks…hiks….” Ibu memeluk tubuh yang tergeletak itu dengan air mata yang terus saja mengalir. Ibu, aku juga sangat-sangat menyayangi ibu. Aku memeluk ibu dari belakang, Meskipun ibu tidak bisa merasakanku, tapi aku yakin ibu akan selalu tahu kalau aku sangat mencintainya.

******

Aku melihat ibu memasuki kamarku. Menyentuh tempat tidurku lembut. Memandanginya dengan penuh arti. Aku lihat dia membawa cake kesukaanku. Lalu ia menatap cake itu, lama sekali. Matanya berkaca-kaca…. “Adiiittt…. hiks….hikss”. ibu menangis dan mencicipi cake itu dengan lahapnya.

“ Addittt ibu buatkan kamu cake kesukaanmu. Kamu selalu memakan buatan ibu dengan lahap seperti ini. Aaadiit… tadi ibu juga beliin kamu baju kaos yang kamu suka itu. ibu juga masak sayur kesukaan kamu… Aaadiiit…. kata guru pengumuman kelulusan kamu mingu depan…. Adiiiitt…. hiks…hiks… ngnggg…..eeeenggg…ng.. Adiiiit!” Kata ibu lirih terus menangis dan terus melahap cake kesukaanku itu. Ibu…

“ Aaddiiit… tadi ibu jahitkan kamu baju untuk acara perpisahan kamu…. ibu yakin ukurannya pasti pas sama kamu….. Addittt…. hiks…hiks…hiks….angngngngng…engngngngeenegngng…. hiks… kenapa kamu ninggalin ibu sendiri…. kamu tahu sekarang ibu benar-benar sendiri…. kenapa Aaadiitt?? ” Ibu menagis sejadi-jadinya dengan membaringkan tubuhnya ke tempat tidurku seraya memeluk photoku. Aku mendekati ibu dan memeluknya. Ibu terus saja terisak. Ibu….

 

******

 

Keramaian siswa diaula sekolahku mewarnai pagi hari itu. Aula sekolah terlihat sangat cantik karena dekorasi dari profesional. Aku yakin acara pengumuman kelulusan sekaligus perpisahan kini pasti sangat ramai dan menyenangkan. Para siswa telah duduk di kursi masing-masing. Tidak ada kursi yan kosong lagi kecuali kursi yang berada agak depan sana. Di kursi itu hanya ada seikat bunga. Yah aku tahu itu kursiku. Aku telah duduk di kursiku ini. Lalu melihat sekeliling. Aku melihat semua orang tua siswa telah datang dan aku juga melihat ibuku duduk di tempat yang sudah di sediakan untuknya.

Sebelum acara di mulai nama siswa di absen terlebih dahulu. Saat bapak guru menyebut namaku. Aku melihat sekeliling. Pandangan teman-temanku ke arah tempat ini. Disaat itu aku kembali sadar kalau semua orang tidak bisa melihatku lagi. Disamping tempat ini juga ada bangku sorang gadis yang menatap tempat ini dengan mata berkaca-kaca. Namanya Clara, dia gadis yang aku sukai. Tapi rasa sukaku padanya tak sebesar cintaku pada ibuku.

Acara berlangsung begitu ramai. Tibalah saatnya dibacakan pengumuman dengan nilai akhir terbaik.

“ Peringkat pertama jatuh kepada……. saudara…. Adit…” aku hanya tersenyum. Ini sebuah kebanggaan jika seandainya aku hidup tapi sayangnya aku tidak ada lagi untuk maju kepanggung sana dan menerima penghargaan, dan tentu saja ibu akan bangga padaku. Kulihat ibuku maju ke panggung. Kemudian menerima penghargaan yang sekarang ini milik seorang Adit. Mata ibu berkaca-kaca,dengan bangga ia mengangkat penghargaan itu tinggi. Dan memperbaiki posisi mic.

Assalamu alaikum wr. Wb……..

….. (salam pembuka)

…….

Terima kasih kepada pihak sekolah yang selama tiga tahun ini telah mendidik anak saya dengan sangat baik. Sehingga bisa memperoleh prestasi yang sangat baik ini…… (Ibu menyampaikan kesannya kepada seluruh yang hadir dengan mata yang berkaca-kaca).

Adit, ibu bangga sama kamu nak…. ibu bangga… kamu anak ibu… selamanya anak ibu…. apapun yang terjadi kamu tetap anak ibu…. Adit maafkan ibu selama ini kurang memberi perhatian ke kamu… maafkan ibu….. Adit ibu merindukanmu…. ibu ingin sekali memelukmu…. ibu ingin menciummu… ibu ingin membuatkan makanan kesukaan Adit…seandainya waktu bisa diputar ibu ingin memutar waktu dan tidak akan menyia-nyiakan waktu bersamamu. Adit,ibu akan selalu mencintaimu….

Kepada seluruh yang hadir di acara ini,penghargaan ini untuk anak saya yang sayangnya tidak bisa saya lihat lagi. Anak saya yang selalu menyayangi saya. Dan saya sangat bangga dengan prestasi yang tidak bisa dia pegang penghargaannya ini. Adit ibu bangga sama kamu nak. Ibu sayang kamu.

Aku menangis, ibu menangis sebagian dari para undangan menangis. Ibu Adit juga ingin memeluk ibu, mencium ibu dan memakan masakan ibu, tapi waktu yang diberikan Tuhan untuk kita bersama hanya sesingkat ini ibu, maka kenanglah Adit dalam mimpi Ibu. karena ibu akan selalu ada dalam hidup Adit yang abadi.

Ibu turun dari panggung dan kembali ketempatnya. Ibu duduk kembali. Aku bergegas kearahnya. Aku memeluk ibuku dari belakang. Lalu aku mencium kening ibu.    

Tiba-tiba cahaya yang sangat terang mendekat kearahku. Samar kulihat sesosok bersayap menghampiriku. Kemudian dia menggandeng tanganku. Aku memperhatikannya. Ternyata dia seorang laki-laki yang sepertinya terlihat agak lebih tua dari ibuku, tapi dia juga bersayap sepertiku.

“ Adit, kita harus pergi sekarang…..” katanya seraya tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dan menurut untuk ikut dengannya. Tapi sebelumnya, aku meletakkan bunga dan album photo masa kecilku ini di kursi ibu dengan menyelipkan secarik kertas yang bertuliskan

Ibu Adit akan selalu menjadi anak ibu dan selalu mencintai ibu…… Ibu…. Adit pamit….

*******

Sebagai acara hiburan/penutup Randy dan Rian memutar video amatir yang dibuatnya dulu bersama Adit dengan proyektor untuk dilihat semua hadirin. Randy membuka video itu dengan lagunya “ Untuk Pacarku Nia……..(.. bla…bla…bla…)”……… “ Cieeee……” sorakan dari teman-teman Randy.

Di bagian 2/3 dari video itu seorang Adit berbicara dan menyanyikan sebuah lagu. “ Ibu, aku tidak tahu apakah ibu hadir hari ini, tapi aku yakin ibu pasti hadir untukku. Ibu aku minta maaf kalau aku bukan anak yang berbakti dan selalu menyusahkan ibu. Ibu, apakah ibu masih ingat cita-citaku waktu aku masih berumur 4 tahun. Ibu pasti sudah lupa, waktu itu aku bilang kalau aku punya cita-cita untuk jadi anak ibu saja. sampai sekarang cita-citaku itu tidak pernah berubah ibu. Ibu, aku merindukan ibu…. Aku menyayangi ibu… dan selalu mencintai ibu. Ibu, aku tidak butuh apapun kecuali ibu, Ibu mohon dengarkan laguku…..  ” Di video itu Adit memulai petikan gitarnya

Dari kecil…. telah kurasakan sayangmu…..

Manja dan menyayangi dengan sepenuh hati….

Tak relamu lihatku menangis dan sedih…..

Dalamnya tatapanmu mengusir sgala sakitku……..

Menangisku dalam sedih yang terindah….

Tak bisaku tahankan rasaku…

Mengingat segala kasih yang t’lah kau beri….

Tak sanggupku membalasmu….

Untuk bunda napaskan kuberi

Untuk bunda jiwa kan kuberi

Untuk bunda kurangkai nada

Semoga mampu tenangkan dia….

Tak seindah…

Hinggaku beranjak dewasa.

Mengingat s’gala cerita…..

Terukir untuk selamanya….

Menangisku dalam sedih yang terindah….

Tak bisaku tahankan rasaku….

Mengingat segala kasih

Yang telah kau beri….

Tak sangguppku membalasmu…..

Demi bunda kuserahkan jiwa

Demi bunda ku jalani hidup

Demi bunda aku berdiri

Mampukah ku hidup tanpamu…..

Bunda…….

*(Setelah menyanyikan lirik terakhir, Adit ambruk dalam video itu)

“ Adit, ibu titip salam buat ayahmu di surga, sayang…..”

**********

Satu pemikiran pada “The Last letter for mom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s