Gambar

 
   

 

 

Karya : ISRI MIRAJNI A

(X Acceleration)

 

Dahulu kala hiduplah seekor ular yang sangat gagah. Kulit bersisiknya berkilau dengan tubuhnya yang panjang dan terlihat kekar di topang oleh kaki-kakinya. Sang Ular berjalan sangat lamban, karena ketika ia melangkah, ia harus mengangkat semua kaki-kakinya.

Kaki Sang Ular tersusun banyak di sepanjang tubuhnya. Kaki-kakinya berbentuk seperti ranting pohon kering. Tetapi Ular sangat pintar merawat kaki-kakinya yang coklat terlihat berkilau.

Semua teman-teman Ular menyukainya karena ketampanannya. Sehingga Si Tikus  menjadi sangat iri padanya.

Suatu hari ketika Ular berjalan di dekat sungai dia melihat seekor katak sedang minum. Wajah Si Katak begitu bersinar. Angin menyapu lembut wajahnya. Dengan butir-btir air sungai yang membasahi bibirnya yang lembab. Kecantikan Si Katak seketika membuat Ular jatuh hati.

“ Wah! Aku baru pertama kali melihatnya. Mungkin dia baru di sini! ” Pikir Ular.

Ular kemudian mendekatinya dan menyapanya dengan dengan ramah.

“ Selamat sore! Kamu baru yah di sini? ” Tanya Ular. Katak yang mendengarnya langsung menoleh.

“Iya!” Jawab Katak dengan ramah sambil tersenyum.

“ Kenalin namaku Ular. ”

“ Eh, iya namaku Katak. Aku dari hutan sebelah. Aku pindah ke sini karena di sana kebakaran. ” Balas Katak ramah.

Si Ular dan Katak mulai akrab. Dan Ular punya harapan yang tersimpan dalam hatinya. Dia ingin menjadikan Katak kekasihnya. Tapi ia ragu mengungkapkannya.

Semenjak Katak pindah ke htan tempat Ular tinggal, Katak jadi rebutan para jantan di wilayah itu. termasuk Si Tikus.

Semakin banyak saja jantan yang melamar Katak. Ibu Katak bingung. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengadakan lomba lari. Siapapun pemenangnya itulah yang akan menjadi pendamping hidup Katak.

Beberapa hari sebelum perlombaan, Tikus menemui Katak. Mereka berbincang dan menjadi akrab. Katak mengakui pada Tikus bahwa ia menyukai Ular. Kemudian Tikus mengeluarkan jurus andalannya dalam hal menjelek-jelekkan Ular. Katak terpengaruh. Dan entah bagaimana cara Tikus, sehingga Katak bersedia jadi kekasihnya.

Sedangkan di tempat lain, Ular dengan tampan putus asa berjalan kesana-kemari.

“ Fiuh…. mana mungkin aku bisa menjadikan Katak kekasihku. Sedangkan aku harus memenangkan lomba lari. Dan parahnya aku tidak bisa berlari, berjalanpun sangat lamban. ” Keluh Ular.

Tiba-tiba muncul peri kecil dari balik daun dan berhasil mengejutkan Ular.

“ Ular, jangan bersedih kawan! Kamu bisa kok memenangkan lomba. ” Kata peri kecil.

“ Benarkah? Bagaimana caranya? ” Tanya Ular sangat bersemangat sampai lupa menanyakan siapa dan dari mana asal peri kecil itu.

“ Yeah! Dengan melepas semua kakimu, maqka kamu akan bisa berlari dengan sangat cepat. ” Kata peri.

“ Apa? Apakah tidak ada cara lain selain car yang bisa membuatku cacat? ” Kata peri.

“ Hanya itu yang aku tahu. Dan kaki-kakimu harus di berikan pada teman-temanmu yang membutuhkan. ”

“ Fiuh…. baiklah! Terima kasih….” Ucap Ular terhenti karena peri kecil itu telah pergi.

“ Jangan mencariku! Karena aku tidak akan kembali. ” Kemudian terdengar suara tanpa tahu dimana sumbernya.

Ular kemudian berpikir siapa sajakah temannya yang membutuhkan kakinya. Tiba-tiba ia ingat harapan kumbang-kumbang temannya.

“ Aku ingin berjalan dengan kaki seperti kakimu Ular! ” Kata salah satu kumbang.

“ Aku juga! ”

“ Aku juga! ” Kata kumbang yang lain.

Maka pergilah Ular membagi-bagikan kakinya kepada kumbang-kumbang temannya. Kini Ular tidak berkaki, ia berjalan berjalan dengan perutnya sekarang. Ular merasa seperti makhluk cacat. Dan ia sangat kehilangan kaki-kainya. Tapi ini semua demi Katak. Apalagi tidak mungkin Ular meminta kaki-kakinya kembali.

Awalnhya Ular ragu untuk mencoba lari, tapi lama-kelamaan rasa ragu itu semakin hilang. Sekarang Ular bisa berlari dengan sangat cepat. Dan itu membuatnya sangat bahagia. Karena sebentar mimpinya untuk menjadikan Katak kekasihnya akan segera tercapai.

Hingga tibalah saatnya perlombaan dimulai. Kini semua peserta telah bersiap di garis start, termasuk Ular. Tapi entah apa yang terjadi dengan Tikus, ia tidak ikut perlombaan itu.

Perlombaan berlangsung begitu sengit. Tapi akhirnya Ular menjadi pemenang. Dia sangat bahagiam, karena sekaqrang Katak benar-benar akan menjadi kekasihnya. Ketiaka Ibu Katak hendak mengumumkan hasil lomba, Katak mencegah. Kemudian ia maju sambil menggandeng tangan Tikus. Ular yang melihat tu merasa cemburu, tapi ia masih dapat menahan emosi.

“ Hadirin sekalian! Aku tahu pemenang dari lomba ini adalah Ular. Tapi sebelumnya aku telah memilih Tikus menjadi kekasihku. Jadi maaf kepada semuanya, terutama pada Ular. ” Kata Katak.

Semua yang hadir tercengan begitupun dengan Ular.

“ Tapi… Katak… ” Ular hendak menjelaskan.

“ Maaf Ular. Jujur aku pernah menyukaimu, saat kamu masih punya kaki. Tapi sekarang kaki-kakimu sudah tidak ada lagi. Dan itu membuatku ilfeel.  ” Kata Katak.

“ Lagii pula aku sudah memiliki Tikus untuk mendampingi hidupnya. ” Lanjutnya.

Seketika itu Ulare mengamuk. Ia mengeluarkan suara mendesisnya. Ekornya dikibaskan kesana-kemari dengan sangar. Kemudian tubuhnya yang panjang melilit Katak dan Tikus.ia menggigit Katak hingga berdarah-darah kemudian menelan Tikus bulat-bulat. Setelah menelan Tikus, barulah Ular kembali dalam kesadaran. Semua yang melihatnya ketakutan.

Tidak ada lagi yang mendekatinya. Ular di usir dan di lempar batu oleh penduduk hutan itu. Ular pergi dengan tertatih, terluka didalam dan di dalam. Hingga akhirnya tibalah ia di suatu tempat diamana ia hanya sendiri. ular yang malang, melepaskan kaki-kakinya demi cinta yang tega menghianatinya. Sekarang ia cacat, ia benar-benar tidak berkaki lagi.

Ular yang malang, kesepian dan kedinginan. Seekor Ular yang lain tak sengaja melihatnya. Karena iba, ular itu merawat Si Ular. Ular berangsur-angsur sembuh. Tapi luka didaam telah menjadi dendam yang mendarah daging.

Dari rasa iba, ke perhatian hingga akhirnya muncul rasa sayang. Begitupun sebaliknya, Ular juga menyayangi Ular Betina.

Suatu ketika Ular jantan menghampiri Ular Betina.

“ Teman! Aku menyukaimu. Maukah kamu menikah denganku? Oh sungguh aku tidak merasa tidak pantas, tapi aku sudah tidak bisa memendam perasaanku . ”

“ Iya! Aku mau! ” Balas Ular Betina.

“ Apakah kamu tidak malu, dengan aku yang cacat ini. Aku tidak ingin menjadi beban karena keadaanku yang cacat ini. ”

Tanpa menjawab pernyataan Ular, Ular Betina pergi meninggalkan Ular. Tidak berapa lama Ular Betina kembali dengan keadaan yang berbeda. Ular Betina sudah tidak punya kaki.

“ Apakah sekarang kamu masih merasa menjadi beban? ” Tanya Ular Betina.

Ular sangat takjub melihat ketulusan Ular Betina.

Akhirnya mereka menikah. Beberapa lama kemudian Ular betina bertelur dan telur-telurnyapun kini telah menetas. Hingga lahirlah anak-anak Ular yang tidak berkaki.

Spesies Ular berkaki sudah punah. Karena sepasang Ular berkaki yang di bahas di atas merupakan spesies terakhir. Dan merupakan awal dari keturunan Ular tak berkaki. Sampai sat ini juga sakit hati Ular dan Katak masih berlanjut.  

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 GambarGambarGambar

4 pemikiran pada “Asal Mula Ular Tak Berkaki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s