Aku membenci hidup rempong yang harus berinteraksi dengan banyak orang, tapi aku tetap menjalaninya bahkan berada dalam lingkarannya. Aku membenci ketika aku tak berhak atas waktuku. Aku membenci ketika aku harus berbicara banyak sok akrab. Aku membenci mendengar banyak cerita tak penting, itu membuang waktu. Aku membenci meladeni untuk mendengar semua keluhan-keluhan kekanakan. Menjadi sok bijak sok tegar atau sok apalah. Muak! Aku membenci ketika aku tidak dianggap asing tetapi tetap dicela. aku membenci ketika aku harus menunggu. Aku membenci karena hal sepele, aku harus berhutang budi pada orang lain. Aku membenci ketika aku tak bisa lagi tersenyum tanpa alasan. Aku membenci kebiasaanku berubah karena orang lain. Aku membenci diusik. Biarkan aku sendiri. Agar aku tahu rasa. Aku membenci mejadi kekanakan tapi juga membenci tampil dewasa. Aku membenci banyak orang yang tidak memahami kebencianku.

Aku lebih memilih didatangi ketika aku dibutuhkan. Karena kedatangan pada saat itu lebih tulus. Aku membenci melihat banyak orang tapi anehnya masih bermimpi untuk dikenal dan diakui banyak orang. Aku membenci harus menjadi dewasa. Aku membenci mengerti tapi pura-pura tak mengerti. Banyak hal yang kubenci dalam hidup. Tapi sepertinya yang paling kubenci adalah kenyataan bahwa semua kebencian itu dikarenakan aku adalah seorang pengecut.

Saat masih anak-anak aku lebih suka diam, memilih bersabar ketimbang mengadu ke mama atau bapak ketika aku merasa terganggu. menjadi anak kecil yang polos, bermain dengan wajar. Menjadi seorang penyendiri, penurut dan pendiam. Sama sekali tidak berniat untuk memberontak.

Tapi justru disaat aku bukan anak-anak lagi aku selalu ingin mengadu pada mereka, tentang siapa yang menggangguku, atau apa yang menggangguku, tentang apa yang kuhadapi hari ini atau kemarin. Aku ingin mengadu kepada mereka justru disaat aku bukan anak-anak lagi. “Mama aku muak!, Pak aku muak! Hidup begitu melelahkan, aku ingin menjadi putri kecil kalian saja. Meski semuanya diatur, dan aku merasa tidak berhak memilih jika itu sudah pilihan kalian. Tapi itu lebih mudah kuhadapi karena aku sudah terbiasa.”

Aku tidak tahu menentukan pilihan, aku tidak tahu bertindak tegas pada diriku karena memikirkan orang lain. Aku membenci harus bertindak egois. Aku membenci ketika aku tak bisa menangis meski sudah sangat sakit. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya menghilangkan semua kebencianku, tapi jika itu terjadi, artinya aku bertindak seolah tak berTuhan. Aku juga benci itu. Mungkin saat ini adalah salah satu titik jenuh yang harus kujumpai sesekali dalam hidup. Mungkin,

Aku muak! Benar-benar muak!

Tolong, jangan ganggu aku. Biarkan aku sendiri. Pergi! Jangan merengek padaku. Jangan memintaku untuk melakukan ini atau itu. Jangan membuatku menunggu. Jangan menghalangiku. Jangan melewati batas privacyku. Karena aku benar-benar membencinya. Saat ini, menjadi autis itu menyenangkan atau anggap aku orang yang autis saja. Aku lebih suka itu. Sendiri, menemani hujan itu lebih baik dibanding berada diantara banyak orang. Betapa pengecutnya aku. Yah, aku tahu itu dengan sangat baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s